Cerita di Tahun Ketiga
April 29, 2008
Di dalam satu cerita, satu
paragraph, satu skenario. Semua menunjukkan satu keterkaitan dalam ritme yang
berbeda
Ada
kalanya terdapat beberapa kata dan ada kalanya juga terdapat beberapa titik,
beberapa perhentian, beberapa jeda dan beberapa koma.. Semua terbagi menjadi 3
bagian. Saat kata itu ada, saat jeda itu ada dan saat titik itu ada. Saat
titik itu ada menandakan kita akan berhenti untuk kemudian ada jeda dan memulai
kembali dengan kata yang baru.
Ada kalanya waktu mengajarkan kita kesabaran dan ketidakpastian. Seperti proses
penulisan kata – kata yang terlihat sederhana dan dan diulang – ulang. Lihatlah
Pandai besi yang menempa besi. Dari mata orang biasa, ia sedang mengulangi
kegiatan yang sama. Palu menempa, tetapi orang yang mengerti tahu setiap pandai
besi mengangkat palunya, dan menempa besi itu. Intensitas dari tempaaannya
berbeda. Tangan mengulangi gerakan yang sama, ketika tangan itu menempa
mendekati. Ia akan mengerti bahwa ia mengerti untuk menekan dengan kurang atau
lebih tekanan. Itu sama dengan repetisi. Itu terlihat sama namun berbeda. Suatu
ketika saat itu akan tiba ketika kamu tidak lagi berpikir tentang apa yang kamu
lakukan. Kamu menjadi kertas, kamu menjadi tinta , kamu menjadi kata – kata. “.
[Paulo coelho – The Witch of Portobello]setiap orang dari kita memiliki jalan yang berbeda – beda, pribadi kita dan
keahlian kita masing – masing. Ya sebenarnya kita sedang menempa diri dengan
lingkungan dan keadaan yang membatasi kita.. kita sedang belajar menjadi
seorang pandai besi. Yang melakukan kegiatan repetisi dan terus menerus. Terlihat
sama setiap hari, terkadan dari luar begitu membosankan, begitu tidak menarik, ..namun
saat kita bisa menjadi kertas dan tinta itulah saat kita memiliki kebanggaan
sepenuhnya..
Ada satu cerita tentang Seorang teman
terbaik dari Negara Amerika. Ia bercerita dimana dia sekarang memiliki kondisi
yang berbeda, ia seakan – akan tidak mempunyai apa – apa untuk diperjuangkan.
Ia berkerja dalam satu tim yang merupakan project terbesar yang pernah
ditangani di kantor. Ia terus menerus melakukan repetisi yang sama karena fase
desain yang sudah relatif selesai dan ia hanya perlu menggambar dan memproduksi
gambar. Karena itu ia ingin sekali bisa kembali mendesain konsep – konsep
seperti sewaktu dahulu di kampus.. dan kembali menikmati masa – masa kuliah
yang penuh dengan ide – ide. Kemudian kita pun bercerita mengenai bagaimana
masa – masa kuliah dulu. Hal yang menarik terjadi ketika kita berbicara
mengenai ambisi dan mimpi. Ambisi itu berbeda dengan mimpi. Ambisi adalah nafsu
dan keinginan kita, ketika kita berbicara mengenai ambisi, mata kita akan liar,
dan nafas kita akan tersengal – sengal… namun ketika kita bercerita mengenai
mimpi, saat – saat itu akan teduh, dan cerita itu tidak akan ada habisnya..dua
hal hampir sama namun jelas berbeda. Aku percaya bahwa kita harus mengejar dan
mewujudkan mimpi kita. apapun yang sedang dan akan terjadi, itu berarti kuyakin
selalu bahwa kita harus mencintai apa yang kita kerjakan dan perbuat.
Semua ini kembali berulang, ada
kerinduan untuk kembali ke masa
– masa penuh pencobaan, dimana semua masih
terasa tidak pasti. Masa – masa 3 bulan pertama di tahun pertama, kedua dan
ketiga. Ku tahu, sekali kumelepaskan semua yang ada disini, aku akan kembali
lagi berada didalam suasana yang baru. Pertanyaaannya adalah apakah masa yang
sekarang itu sudah cukup…. “waktu itu berbicara dalam berbagai macam
dimensi, waktu berbicara dalam dimensi detik menit jam dan hari – hari
yang akan atau telah lewat “ namun pengalaman untuk belajar itu akan
kembali dalam kemauan dirimu itu sendiri untuk belajar, bahkan jika perlu waktu
itu akan tunduk kedalam kekuatan keinginan. Mungkin waktu 1 bulan, 3 bulan ,6
bulan 1 tahun akan tidak cukup, namun bisa juga itu sudah lebih dari cukup.
Tidak ada yang pernah mengerti akan kekuatan keinginan. Jangan pernah
menghitung dan membatasi dirimu sendiri. Saat hati kita sudah bekerja, apa yang
tidak mungkin akan menjadi mungkin. Saat ini kerinduan yang amat sangat untuk
bisa kembali meneruskan studi di tempat – tempat terbaik sudah begitu terlihat…
kata kebanggaan mulai sirna dan kata ketiadaan akan mulai menghampiri… sekali
jalan sudah terbuka, dan kaki mulai melangkah maka tidak ada kata kembali…
Mengenai Jejak – jejak langkah
Kita selalu menemukan jejak – jejak langkah orang lain dalam hidup ini. Jejak
langkah orang tua, kakak, orang – orang panutan. Jejak – jejak itulah yang akan
membimbing kita, seperti menemukan beberapa panutan untuk membantu mengarahkan
kita ke arah yang baik. Jejak langkah itu ada yang besar , ada yang terlihat
jelas, ada juga yang terlihat samar – samar. Alih – alih dari jejak langkah
yang sudah dijelaskan… Jari jemari ini mulai bergerak. Tidak tertahankan untuk
menulis beberapa paragraph mengenai cinta. Cinta itu sebuah misteri. Misteri
itu datang dari pribadi wanita. Wanita menjaga misteri dan membukanya dan
mengajarkan mengenai arti bagaimana berbuat dalam hidup.. Satu dan lain hal
kita merasa tak pernah sempurna tanpanya. aku belajar mengenai tulusnya
menghargai, aku belajar mengenai tulusnya arti memaafkan. aku belajar mengenai
arti ada dan tiada. juga aku belajar mengenai arti simpati mengenai orang lain.
aku belajar mengenai tulusnya berbuat. Satu demi satu aku baru mulai mengerti,
satu dan lain hal mengenai wanita. Di antara perbedaan 6 jam yang sungguh sulit
untuk dijalani, aku percaya wanitalah yang akan memahat pribadi kita, watak
untuk menjadi lebih baik.. Dimanapun diri ini melangkah kupercaya jejak
langkahnya selalu ada dalam doa dan cita. Dan jawaban akan pertanyaan diatas
adalah ….Seringkali diri ini bertanya sampai kapan kita harus mengikuti jejak
langkah yang ada di dunia ini. Apakah ada saatnya kita membuat jejak langkah sendiri
bagi orang lain ? Untuk menjadi diri sendiri ? Wanita terbaikku berbicara “kamu
harus bisa menjadi diri sendiri, karena kamu adalah kamu dan bukan orang lain,
kita hanya ada satu, hidup ini hanya satu kali. Jalanilah sepenuh hati.” Aku
selalu bersyukur bisa mempunyai orang yang mendukung setiap langkah yang
direncanakan dengan tulus. Hidup memang tidak pernah tergesa – gesa,
Namun
sekarang saatnya aku ini berlari dengan kencang …
Live A Life That Matters
April 10, 2008
Ready
or not, some day it will all come to an end. There will be no more sunrises, no
minutes, hours, or days.
All the things you collected, whether treasured or forgotten, will pass to
someone else.
Your wealth, fame and temporal power will shrivel to irrelevance.
It will not matter what you owned or what you were owed.
Your grudges, resentments, frustrations and jealousies will finally disappear.
So too, your hopes, ambitions, plans and to-do lists will expire.
The wins and losses that once seemed so important will fade away.
It won’t matter where you came from or what side of the tracks you lived on at
the end.
It won’t matter whether you were beautiful or brilliant.
Even your gender and skin color will be irrelevant.
So what will matter? How will the value of your days be measured?
What will matter is not what you bought, but what you built; not what you got,
but what you gave.
What will matter is not your success, but your significance.
What will matter is about what you learned as well as what you taught.
What will matter is every act of integrity, compassion, courage or sacrifice
that enriched, empowered or encouraged others to emulate your example.
What will matter is not your competence, but your character.
What will matter is not how many people you knew, but how many felt good when
they were around you and how you served them.
What will matter is not your memories, but the memories that live in those who
loved you.
What will matter is how long you will be remembered, by whom and for what.
Living a life that matters doesn’t happen by accident. It’s not a matter of
circumstance but of choice.
Choose to live a life that matters. - Michael Josephson
" If there is anything I would like to be remembered for it is that I
helped people understand that leadership is helping other people grow and
succeed. To repeat myself, leadership is not just about you. It’s about
them." - Jack Welch
Live A Life That Matters